REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Aku Garap Tanteku yang Montok di Dapur

Cerita Sex 2018 – ceritapv.net (Cerita Penis Vagina) adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Aku Garap Tanteku yang Montok di Dapur. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Cerita ini berawal saat aku masih duduk di kelas 3 SMA. Oh-iya.. perkenalkan namaku Surya, umurku sekarang sudah 25 tahun. Ada sebuah cerita yang aku alami dan sampai saat ini dan masih saja aku kenang. Yaitu sebuah kejadian antara aku dan Tanteku yang bernama Erna.

Saat masa SMA dulu, aku dititipkan oleh kedua orang tuaku pada Tante Erna. Tanteku ini orangnya sangat cantik dan tubuhnya mulus aduhai bikin semua pria yang lihat pasti pengen segera ngentot dengannya. Ok deh langsung saja pada inti cerita kali ini. Tante Erna adalah seorang single parent atau janda dengan 3 orang anak yakni 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal yang tidak terkenal namanya.

Sudah mempunyai 3 orang anak dan di usia 37 tahun, Tante Erna ini masih saja terlihat cantik dan seksi. Tubuhnya terawat karena dengan kondisi keuangan yang mapan, Tante Erna secara teratur senam. Hasilnya, walaupun sudah punya 3 anak, tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya besar dengan pinggul yang juga besar, tapi pahanya selain putih dan mulus juga singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun tidak tahu tapi yang jelas masih mekal tidak kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak.

Kejadiannya berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang, hanya ada Tante Erna yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar Tante Erna hanya satu mata kuliah saja. Sepulang sekolah, aku menemukan Tante Erna didapur sedang asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja makan.

“Tante Erna, belum siap ya makanannya?” tanyaku kelaparan.

“Belum Sur, sabar ya. Ini lo si Bibik pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri,” keluh Tante Erna.

Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau Tante Erna tidak pernah kerja sekeras ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah Tante Erna semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu jadi kelihatan agak ketat dan tercetak garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya.

“Ahh, seksi sekali,” gumamku dalam hati.

“Surya bantuin Tante ya?” tawarku.

“Boleh Sur, sini!” ternyata Tante Erna tidak keberatan.

Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah kenapa tiba-tiba keran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang ada di kepala keras itu menyembur dengan derasnya mengenai Tante Erna yang kebetulan ada didepannya.

“Aduhh… Sur… tolong… gimana ini?” kata Tante Erna dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.

Karena tubuh Tante Erna tidak terlalu tinggi untuk mencapai saluran itu, dia haru sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi tercetak pantatnya yang besar dengan garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.

Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutupi saluran air itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa dibayangkan, tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang montok. Keadaan ini bertahan beberapa lama hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dalam pikiranku.

“Aduhh Sur.. Gimana ini?” tanya Tante Erna tanpa bisa bergerak.

“Duh gimana ya Tante, aku juga bingung,” kataku mengulur waktu.

Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepaskan satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring mencari sesuatu untuk menutupi saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018

“Wah, gak ada yang bisa buat nutup Tante… Sebentar ya Surya carikan dulu yah,” kataku ke Tante Erna.

Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air, “Pegang dulu Tante,” kataku sedikit terengah menahan gairah.

“Ya, pergi sana cepetan, Tante sudah pegal nih,” suruh Tante Erna.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar-samar.

“Eeeh… apa-apaan ini Sur, jangan gitu dong!!” tanpa sadar Tante Erna melepas pegangannya dari saluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Lepasan tangan Tante Erna itu membuat air itu menyembur lagi.

“Aaauuhh… Sssruuuurr…..  Sssuuurrrr….” suara Tante Erna jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air.

Tanpa sadar juga Tante Erna berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi. “Kesempatan,” pikirku. Dengan satu sentakan celana dalam Tante Erna melorot sampai diujung kakinya.

“Aauuwwh.. duuh Surya… jangan… aku ini Tantemu… jangan…. Ssrrruuuhhhh…” mohon Tanteku tapi sedikit suaranya masih tidak jelas.

Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari lubang memeknya. Kudekatkan kepalaku, lalu kujulurkan lidahku untuk mencapai daerah memeknya.

“Aaakkkh… Sur… Aaahhh….” jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula. Kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi kedalam wajah Tante Erna.

Lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari memeknya, semakin kedalam membuat Tante Erna bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan. Aku lalu cari itilnya, memang agak sulit setelah dapat, kuhisap-hisap habis dengan dua jariku juga ikut menusuk lubang memeknya. Tidak dikira-kira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian terasa pantat Tante Erna bergetar hebat.

“Aaahh… aaahh…. Sur…. Aaahhh…. Ouuuhhh….” erangan keras itu rupanya Tante Erna sudah mencapai orgasme. Ngentot Tante Montok 2018

Tubuhnya langsung lunglai lemas tapi tanpa melepaskan pegangannya dari saluran air, “Aduhh.. aku belum apa-apa,” kataku dalam hati.

Langsung saja aku berdiri, kusiapkan kontolku yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku, aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan kontolku ke lubang memeknya. Kudorongkan sedikit demi sedikit, begitu sudah betul-betul tepat di mulut lubang memek Tante Erna, tanpa basa-basi lagi langsung saja kuhentakkan dengan kasar.

“Aaahh… sakitt… Surr…. pelan…. Aaakkkhh….” kepala Tante Erna langsung melonjak keatas.

Tanpa sengaja pegangannya di saluran air telepas dan airnya menyembur dengan deras. Sudah kepalang basah, begitu mungkin pikir Tante Erna karena selanjutnya dia hanya berpegangan di pinggiran cucian piring. Dalam hatiku mungkin sudah tidak ada penolakan apapun dari Tante Erna.

Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya di dalam lubang memek Tante Erna. Kunikmati dan rasakan pelan-pelan bagaimana ternyata memek yang sudah mengeluarkan tiga orang anak manusia ini masih saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik kemudian kudorong lagi.

“Oooouuhhh…. Surya… enak….. terus sayang….. yang cepat… Ooooohhh…. Aaakkkhh… terus sayang…. Uuuuhhhh…” pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku.

“Nah gitu Sur… Ouuuhhh… ya gitu terus… Oooohhh…” pinta Tante Erna.

Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Selang beberapa menit kemudian tubuh Tante Erna mulai bergetar hebat.

“Yang cepat Sur… Tante sudah mau keluar lagi… Ooouuuhhh… teruss…. sssshhhh….” kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan.

“Cepat…. cepat terus….. Ouuuhhh…. Tante keluar…. Aaaggghhh….” orgasme Tante Erna telah sampai dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkram pinggiran cucian piring dengan erat.

“Cabut dulu Sur… memek Tante ngilu…” pinta Tante Erna karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari belakang.

“Akan Surya cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante?” kataku.

“Iya, tapi sekarang dari depan aja ya.” janji Tante Erna.

Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah ambur adul dan basah kuyup. Kemudian Tante Erna duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku lalu mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lidah. Sambil terus berciuman, satu tangannya membimbing kontolku masuk kearah lubang memeknya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.

“Aaaahh… Surya…. Ooouuhhh…” erang Tante Erna saat ciuman kami terlepas.

“Pompa yang cepat sayang…” pinta Tante Erna sambil pahanya semakin dilebarkan.

“Begini Tante…” kataku sambil memompa kontolku dengan cepat.

“Gila kamu Sur… kuat sekali kamu….” sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya dibagian atas memeknya. Aku tahu maksudnya.

“Yaaahhh yang itu… terus Sur….. Oooouuhh…. enak… terus Sur….. Oooohhh…” rintih Tante Erna ketika sambil kontolku mengocok memeknya, tanganku juga memelintir itilnya.

“Ooouuhhhh… Surya…. Tante hampir sampai….” tubuh Tante Erna mulai bergetar agak keras.

“Aku juga hampir sampai Tante…. Oouuuhh… punya Tante enak…. ” aku mulai tidak bisa mengendalikan lagi orgasmeku tinggal sebentar lagi.

“Dikeluarin dimana Tante?” tanyaku minta ijin.

“Sudah gak usah mikirin itu.. Ooohhh…. ayo terusss…. didalem aja… Aaaakkkhhh….” desah Tante Erna setengah berteriak.

“Ayo…. Tante sudah diujung nih Surya.. Oooooohhh….” erangku.

“Ooohhhh…. eeenakk…. cepatttt Surya…. yang cepatttt… Aaakkkhhh…” rintih Tante Erna.

“Goyang Tante, kita barengan aja… Ooooohhh….” orgasmeku sudah diujung.

Semakin kupercepat pompaanku, Tante Erna juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.

“Ooooohhh…. Aku keluar Tante….. Aaaaakkkhhh…” sambil kubenamkan dalam-dalam.

“Tante juga Sur… Ooouuhhhh… fuccckkk… eeenakknya…. Ooohhhhh…” erangnya sambil jemarinya mengcengkram bahuku.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih tertancap di dalam lubang memeknya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari lubang memeknya. Seperti tersadar dari dosa, Tante Erna mendorong badanku.

“Kamu nakal Sur, berani sekali kamu berbuat ini,” kata Tante Erna padaku.

“Tapi Tante juga menikmatinya kan?” jawabku.

Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dua sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi kemudian menguncinya.

“Tante air di keran tadi sudah habis loh,” candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Aku Garap Tanteku yang Montok di Dapur …. Dibaca juga Gara-Gara Menyusui, Kusetubuhi Mama Kandungku …. Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.net selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: