REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Memek Tanteku yang Sempit Haus Akan Sex

Cerita Sex 2018 – Ceritapv.net (Cerita Penis Vagina) adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Memek Tanteku yang Sempit Haus Akan Sex Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Perkenalkan namaku Baim, umurku saat ini sudah 22 tahun, aku kuliah di salah satu universitas terkenal dikotaku. Aku sendiri memiliki penampilan yang kurang lebih bisa menarik perhatian kamum wanita karena perawakanku yang atletis dan wajah ganteng yang menghiasi tubuhku. Tidak perlu dipertanyakan lagi, aku sudah mendapat banyak pengalaman dari banyak wanita karena aku memulai berhubungan sex sejak SMA sampai sekarang. Namun kali ini aku tidak menyangka kisahku ini akan terjadi karena persetubuhan ini aku lakukan dengan Tanteku. Tanteku ini bernama Lia yang mana adalah istri dari Om ku Ranto atau adik dari Papaku. Namun mau bagaimana lagi jika kucing dikasih ikan asin ya mana mau menolak, hehehe…

Suatu pagi saat aku masih tidur, handphoneku berbunyi dan aku yang masih dengan mata tertutup mengangkat HP ku, ternyata adalah Om Ranto yang meneleponku.

“Im, kamu beberapa hari ini subik ngak?” tanya Om Ranto.

“Kayaknya ngak Om, emangnya kenapa Om?” tanyaku balik.

“Om mau minta tolong nih, bisa gak?” tanya Om Ranto.

“Eemmm… minta tolong apa Om? Kalau aku bisa pasti aku bantu Om,” jawabku.

“Om minta kamu menginap dirumah Om karena Om mau keluar kota selama beberapa hari, kamu temenin Tante Lia dan Indah dan Tari ya Im. Bisa gak?” tanya Om Ranto.

“Heemmm…. bisa deh Om, aku ke rumah Om kapan, nanti apa sekarang Om?” tanyaku.

“Sekarang aja Im, karena Om sebentar lagi mau berangkat dan Om juga sudah ngomong sama Tantemu kok, kalau kamu yang akan menemaninya,” jawab Om Ranto.

“Oke deh Om, aku mandi dulu, nanti aku terus kerumah Om,” jawabku.

“Makasih ya Baim, kamu memang keponakanku yang paling baik, nanti jika Om sudah berangkat kamu tinggal masuk aja ya Im,” ucap Om Ranto.

“Iya Om,” jawabku singkat.

Setelah menutup telepon dengan mata yang masih berat, aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk mandi. Di dalam kamar mandi aku sempat membayangkan yang tidak-tidak, aku membayangkan tubuh bahenol Tante Lia, kubayangkan pantatnnya yang montok aku remas-remas, kujilati memek Tante Lia sampai Tante Lia orgasme, kontolku dikulum Tante Lia. Bayangan itu membuat kontolku menegang dan akhirnya aku tersadar setelah tubuhku basah oleh air hingga bayangan Tante Lia hilang seketika.

Tidak lama aku selesai mandi, aku pun bergegas ganti baju dan langsung menuju rumah Om Ranto. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai dirumah Om Ranto, dan ternyata Om Ranto sudah berangkat lalu aku disambut oleh Tante Lia. Pemandangan indah seketika itu pun aku dapatkan, baju ketat dan super seksi menghiasi tubuh Tante Lia sehingga bentuk lekuk tubuh Tante Lia menjadi terlihat. Bahkan ada garis-garis celana dalam Tante Lia kelihatan karena roknya yang sangat ketat. Beberapa menit memang aku terdiam dan menelan ludah sebelum akhirnya Tante Lia membuyarkan pemandanganku itu.

“Baim, Tante minta tolong kamu antar Indah dan Tari kesekolah ya,” pinta Tante Lia.

“Oke deh Tante,” jawabku singkat.

Lalu aku mengajak kedua anak Tante Lia yang masih kecil ke mobil dan aku pun mengantarkannya kesekolah. Diperjalanan aku mengantar Indah dan Tari, kembali aku teringat dengan kemolekan tubuh Tante Lia yang tadi aku lihat. Aku tidak kuasa menahan nafsuku hingga dalam perjalanan batang kontolku menegang sehingga kelihatan dari luar celanaku karena kontolku yang lumayan besar.

Untungnya aku mengantarkan kedua anak Tante Lia, jika yang kuantarkan adalah Tante Lia bisa-bisa aku langsung menubruknya, “pikiran kotor itu yang terus mengganguku selama dalam perjalanan,” kataku dalam hati.

Selesai sudah tugasku mengantar kedua anak Tante Lia hari ini dan langsung saja kupacu mobil ke rumah Tante Lia. Setelah kuparkirkan mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Lia masih mandi karena terdengar suara guyuran air agak keras, lalu hening agak lama. Setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar suara air gemericik, aku mulai curiga dan aku hentikan kegiatan makanku.

Setelah menaruh piring di dapur, aku langsung menuju ke pintu kamar mandi. Sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih Tante Lia tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya.

Ternyata Tante Lia sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke memeknya. Sedangkan tangan kirinya mengelus-elus payudarannya bergantian kiri dan kanan. Terdengat suara desahan lirih, “Oooohhhhh…. sssshhhh….. Uuhhhh….” kulihat Tante Lia melentingkan tubuhnya ke belakang sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke memeknya. Rupaya Tante Lia ini sudah mencapai orgasme, lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya.

Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh montok Tante Lia membuatku sangat tergila-gila untuk dinikmati. Aku jadi membayangkan Tante Lia berhubungan badan denganku.

“Lho Baim, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan ke celana gitu. Hayo…. kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke Mama kamu lho…” tiba-tiba suara Tante Lia mengagetkanku.

“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Bukannya nanti malam saja, kan enak ada lawannnya,” goda Tante Lia sambil masuk ke kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma seketar candaan saja. Setelah Tante Lia berangkat kerja, aku sendirian dirumahnya yang sepi ini karena masih gantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk ke kamar Tante Lia dan langsung tidur.

“Hhhhmmmm…. geli aah…” erangku dalam tidur.

Aku terbangun dan terkejut, karena Tante Lia sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang batang kontolku dari luar sarung.

“Waduhh… maafin Tante ya Im, Tante bikin kamu jadi terbangun,” kata Tante Lia sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat batang kontolku menegang dengan sempurna itu.

“Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok dengan alasan sakit,” setelah ambil obat dari apotik, Tante pulang.

Begitu alasan Tante Lia ketika aku tanya kenapa dia tidka masuk kerja, “Waktu Tante masuk kamar, Tante lihat kamu lagi tidur di kasur Tante dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pengen pegang punta kamu. Besar juga ya kontolmu Baim,” nyerocos Tante Lia untuk menjelaskan kelakukannya.

“Sudahlah Tante, gak apa-apa kok. Lagian Baim tahu kok kalau Tante tadi pagi itu masturbasi di kamar mandi,” celetukku sekenanya.

“Lho.. jadi kamu,” Tante kaget dengan mimik setengah marah.

“Iya, tadi Baim ngintip Tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante Lia hanya diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang sepuluh menit. Sepertinya ada gejolak di hati Tante Lia, lalu dia bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepaskan blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis berwarna putih, sehingga sekarang terpampang tubuh Tante Lia yang toples sedang membelakangiku.

Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan kontol di sarungku. BH-nya berwarna hitam juga terlepas, lalu Tante Lia berbalik menghadapku dan aku jadi salah tingkah.

“Tante tahu kamu sudah lama pengen menyentuh ini,” dengan lembut Tante Lia berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.

“Heeemm… ngak kok Tante. Maafin Baim ya,” aku semakin salah tingkah.

“Lho, kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya Tante Lia dengan mimik keheranan.

“Maksud Baim, ngak salahkan kalau Baim pengen pengang ini!” Sambil aku tarik baju Tante Lia ke tempat tidur, sehingga Tante Lia terjatuh diatas tubuhku, langsung saja aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan

“Eehh… nakal juga kamu ya… ihhhh geli Im…” Tante Lia merengek perlahan.

“Hhmmm…. Ooohhh…” Tante Lia semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal celana dalam yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh Tante Lia, tangan kirku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin basah. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan disetiap cm bagian tubuhnya. Sampai akhirnya tangan Tante Lia masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

“Hheemmmm…. boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya Om kamu deh,” Tante Lia mengagumi kontolku yang belum pernah dilihatnya.

“Ya sudah dibuka saja Tante,” pintaku.

Lalu Tante melepaskan celanaku, dan ketika tinggal celana dalam yang menempel, Tante Lia terbelalak dan tersenyum. “Wah….. rupanya Tante punya batang kontol lain yang lebih besar,” puji Tante Lia, padahal kontolku belum besar maksimal karena terhalang celana dalam.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas Tante Lia berhenti, rupanya dia sudah berhasil melepaskan celana dalamku dan sekarang terperangah melihat batang kontolku yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

“Tante…. nggapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke Tante Lia dan rupanya kaget.

“Ehhh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya?” agak tergagap juga Tante Lia merespon pertanyaanku.

“Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin Tante merinding,” sambil tersenyum dia mengoceh lagi.

Tante Lia masih terkesima dengan batang kontolku yang mempunyai panjang 17 cm dengan diamter 6 cm.

“Emangnya punya Om gak segini Ya sudah Tante boleh ngelakuin apa saja sama kontolku,” aku ingin agar Tante Lia memulai ini secepatnya. Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018

“Hhhmmmm…. iya deh.”

Lalu Tante Lia mulai menjilat ujung kepala kontolku, ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah Tante Lia mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal kontolku.

“Aahh…. enak Tante… terusin…. Ooohh…” aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala Tante Lia sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya atau lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas celana dalam Tante Lia. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu.

Tiba-tiba Tante Lia merubah posisi dengan duduk di atas dadaku, sehingga terpampang jelas memeknya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

“Ayo Baim, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap memek Tante,” kata Tante Lia sambil tangannya mengusap memeknya.

“Oke Tante,” jawabku langsung mengiyakan dan memulai mengecup memeknya Tante Lia yang bersih.

“Sssshhh… Ooohhhh… Baim…… ” desah Tante Lia pelan ketika aku sentuh itilnya dengan ujung lidahku.

“Hhhmmm…. Uuuurrhhh…. enak Im…. terus Im….. Oooouuhhh….” racau Tante Lia mulai tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri lubang memek Tante Lia semakin kacau pula omongan tante Lia. “Aaahhh…. Baim…. Ssssshh….. Tantee…. mau keluar…. Oouuhhhh….” erang keras Tante Lia.

“Aaakkhhh…..” erangann Tante keras sekali sambil tubuhnya dilentingkan kebelakang.

Rupanya Tante Lia sudah mencapai puncak orgasme. Aku terus menghisap dengan kuat memeknya dan Tante Lia masih berkutat dengan perasaan enaknya.

“Ooouuhhhh…. kamu pintar Baim.. Gak rugi Tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas nafsu Tante nih, kalau Om kamu lagi keluar kota. Mau kan?” dengan manja Tante Lia memeris tubuhku.

“Eehh.. gimana ya Tante….” kataku sambil melirik ke arah batang kontolku sendiri.

“Oh iua, Tante sampai lupa, maaf ya,” kata Tante Lia langsung tersadar kalau kontolku yang masih berdiri tegak dan belum terpuaskan.

Langsung saja dipegangnya batang kontolku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut Tante Lia mulai mengocok batang kontolku.

Setelah lebih dari 15 menit Tante Lia berhenti mengocok, “Baim, kok kamu belum keluar juga, Wah… selain besar ternyata kuat juga ya kamu,” puji Tante Lia yang terheran-heran karena belum ada tanda-tanda kalau aku mau mengeluarkan sesuatu dari kontolku.

Tante Lia bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh Tante Lia, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus secara bergantian kiri dan kanan sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di lubang memeknya dan mulai menyedot. Lalu Tante Lia menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan.

Setelah lubang memeknya Tante Lia basah, Tante lalu melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya, lalu aku gesek-gesekkan kepala kontolku ke bibir memeknya dari atas ke bawah dengan pelan. Perlakuanku ini membuat Tante Lia semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

“Tante siap ya, aku mau masukin kontolku,” kataku sembari mengingatkan ke Tante Lia.

“Cepetan Baim, Ayo…. Tante sudah tidak tahan nih…” jawab Tante Lia yang memohon agar aku secepatnya memasukkan batang kontolku.

Dengan pelan aku dorong batang kontolku lagi hingga separuh kontolku sekarang sudah tertancap di lubang memeknya. Aku hentikan sebentar untuk menikmati momen yang sangat enak ini. Para pembaca situs ini coba bayangkan bertapa nikmatnya sensasinya.

“Ooouuhhh… Im, kok rasanya nikmat banget… kamu pintar… Sssshhh….” desah Tante Lia sambil merasakan keenakan.

“Aaahh… mmmmm… Tante ini cara Baim agar Tante juga merasa enak,” jawabku.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa batang kontolku ke dalam lubang memek Tante Lia.

“Aaahhh…” kami berdua mengerang.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi Tante Lia rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Ternyata memek Tante Lia ini masih kencang, pada saat aku menarik batang kontolku, bibir memeknya ikut tertarik dan terdengar suara, “Plok…. Plokk…. Plokkk.” benturan pahaku dengan paha Tante Lia semakin menambah rangsangan.

Setelah lebih kurang 15 menit kami melakukan gaya itu, lalu tiba-tiba Tante Lia mengerang keras. “Aaakkkhhh…. Baim….. Tanteee…. keluarrr lagi…. Ooouuuuhhhhh…”

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya dengan batang kontolku yang masih tertancap dan disedot-sedot oleh lubang memeknya Tante Lia. Dengan posisi memangku Tante Lia, kami melanjutkan persetubuhan ini. Setelah 15 menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di dalam batang kontolku.

“Tante….. oooouuhh… aaakku….. mma… maaauu. keluarr nihh,… dimana?” desahku sambil bertanya kepada Tante Lia.

“Ooouuhhh…. di dalam saja Baim…. sssshhh…. tante juga mua lagi… Oooouuhhh..” erang Tante Lia sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Sedotan memek Tante Lia yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya membuat pertahananku mulai bobol, “Aaaakkkhh…. Tanteee…. aku keluarr….. Ooooohhh…..” erangku panjang.

“Oouuuhhh…. aku juga Baim…. Aaaakkkhh….” Tante juga meracau.

Langsung saja aku semprotkan cairan kental yang panas itu ke dalam lubang memek Tante Lia. Setelah delapan kali semprotan, Tante Lia dan aku terkulai lemas di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

“Baim, kamu hebat,” puji Tante Lia.

“Tante juga, memeknya Tante rapat sekali,” aku balas memujinya.

“Im, kamu mau kan nemeni Tante selama Om pergi,” tanya Tante Lia.

“Mau Tante, tapi apa Tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” tanyaku balik.

“Gak apa-apa Im, Tante masih ikut KB. Jangan khwatir ya sayang,” jawab Tanteku sambil tangannya mengelus dadaku.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi. Itulah pengalamanku dengan Tante Lia, ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur empat puluhan tahun itu.

Semenjak kejadian itu, aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan Tante-tante. Rupanya Tante Lia menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya karena teman Tante Lia pada penasaran dengan diriku. Seringkali aku dikejar-kejar dengan cara yang berbeda-beda.

— S E L E S A I —-

Jangan lupa di share ya Memek Tanteku yang Sempit Haus Akan Sex …. Dibaca juga Cerita Sex 2018 Ditawari Ngentot Wanita Hamil Tua … Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.net selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

One thought on “Memek Tanteku yang Sempit Haus Akan Sex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: